Sejarah Kota Bogor (2)

BOGOR – Bogor selain berarti tunggul kawung, juga berarti daging pohon kawung yang biasa dijadikan sagu (di daerah Bekasi). Dalam bahasa Jawa “Bogor” berarti pohon kawung dan kata kerja “dibogor” berarti disadap. Dalam bahasa Jawa Kuno, “pabogoran” berarti kebun kaung. Dalam bahasa Sunda umum, menurut Coolsma, L “Bogor” berarti “droogetapte kawoeng” (pohon enau yang telah habis disadap) atau “bladerlooze en taklooze boom” (pohon yang tak berdaun dan tak bercabang). Jadi sama dengan pengertian kata “pugur” atau “pogor”.

Akan tetapi dalam bahasa Sunda “muguran” dengan “mogoran” berbeda arti. Yang pertama dikenakan kepada pohon yang mulai berjatuhan daunnya karena menua, yang kedua berarti bermalam di rumah wanita dalam makna yang kurang susila. Pendapat desas-desus bahwa Bogor itu berarti “pamogoran” bisa dianggap terlalu iseng.

Istana 1925

Gambar: Istana Bogor 1925

Setelah sekian lama hilang dari percaturan historis yang berarti kurang lebih selama satu abad sejak 1579, kota yang pernah berpenghuni 50.000 jiwa itu menggeliat kembali menunjukkan ciri-ciri kehidupan. Reruntuhan kehidupannya mulai tumbuh kembali berkat ekspedisi yang berturut-turut dilakukan oleh Scipio pada tahun 1687, Adolf Winkler tahun 1690 dan Abraham van Riebeeck tahun 1704, 1704 dan 1709. Dalam memanfaatkan wilayah yang dikuasainya, VOC perlu mengenal suatu wilayah tersebut terlebih dahulu. Untuk meneliti wilayah dimaksud, dilakukan ekspedisi pada tahun 1687 yang dipimpin Sersan Scipio dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanujiwa, seorang Sunda terah Sumedang.

Dari ekspedisi tersebut serta ekspedisi lainnya, tidak ditemukannya pemukiman di bekas ibukota kerajaan, kecuali di beberapa tempat, seperti Cikeas, Citeureup, Kedung Halang dan Parung Angsana. Pada tahun 1687 juga, Tanujiwa yang mendapat perintah dari Camphuijs untuk membuka hutan Pajajaran, akhirnya berhasil mendirikan sebuah perkampungan di Parung Angsana yang kemudian diberi nama Kampung Baru. Tempat inilah yang selanjutnya menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kabupaten Bogor yang didirikan kemudian. Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Tanujiwa bersama anggota pasukannya adalah: Parakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Baranang Siang, Parung Banteng dan Cimahpar. Dengan adanya Kampung Baru menjadi semacam Pusat Pemerintahan bagi kampung-kampung lainnya.

Dokumen tanggal 7 November 1701 menyebut Tanujiwa sebagai Kepala Kampung Baru dan kampung-kampung lain yang terletak di sebelah hulu Ciliwung, De Haan memulai daftar bupati-bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari tokoh Tanujiwa (1689-1705), walaupun secara resmi penggabungan distrik-distrik baru terjadi pada tahun 1745.

Pada tahun 1745 Bogor ditetapkan Sebagai Kota Buitenzorg yang artinya kota tanpa kesibukan dengan sembilan buah kampung digabungkan menjadi satu pemerintahan dibawah Kepala Kampung Baru yang diberi gelar Demang, daerah tersebut disebut Regentschap Kampung Baru yang kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg. Sewaktu masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff (1740) dibangunlah tempat peristirahatan, pada lokasi Istana Bogor sekarang yang diberi nama Buitenzorg.

assistentresident_1870.jpg

Gambar: Kantor Keresidenan Tahun 1875

Pada tahun 1752 tersebut, di Kota Bogor belum ada orang asing, kecuali Belanda. Kebun Raya sendiri baru didirikan tahun 1817. Letak Kampung Bogor yang awal itu di dalam Kebun Raya ada pada lokasi tanaman kaktus. Pasar yang didirikan pada lokasi kampung tersebut oleh penduduk disebut Pasar Bogor (sampai sekarang) Pada tahun 1808, Bogor diresmikan sebagai pusat kedudukan dan kediaman Resmi Gubernur Jenderal. Tahun 1904 dengan keputusan Gubernur Jendral Van Nederland Indie Nomor 4 tahun 1904 Hoofplaats Buitenzorg mencantumkan luas wilayah 1.205 yang terdiri dari 2 Kecamatan & 7 Desa, diproyeksikan untuk 30.000 Jiwa .

Pada tahun 1905 Buitenzorg diubah menjadi GEMMENTE berdasarkan Staatblad 1926 yg kemudian disempurnakan dengan Staatblad 1926 Nomor 328.

Tahun 1924 dengan keputusan Gubernur Jendral Van Nederland Indie Nomor 289 tahun 1924 ditambah dengan desa Bantar jati dan desa Tegal Lega seluas 951 ha, sehingga mencapai luas 2.156 ha, diproyeksikan untuk 50.000 Jiwa.

Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1941, Buitenzorg secara resmi lepas dari Batavia dan mendapat otonominya sendiri. Keputusan dari gubernur Jendral Belanda di Hindia Belanda No. 11 tahun 1866, No. 208 tahun 1905 dan No. 289 tahun 1924 menyebutkan bahwa wilayah Bogor pada waktu itu seluas 22 Km persegi, terdiri dari 2 sub distrik dan 7 desa.

Berdasarkan UU No. 16 tahun 1950 Kota Bogor ditetapkan menjadi Kota besar dan Kota Praja yang terbagi dalam 2 wilayah Kecamatan & 16 lingkungan. Tahun 1981 jumlah Kelurahan menjadi 22 Kelurahan, 5 kecamatan & 1 Perwakilan kecamatan.

Terakhir berdasarkan PP. No. 44/1992 Perwakilan Kecamatan Tanah Sareal ditingkatkan statusnya menjadi Kecamatan, Kini terdapat 6 Kecamatan dan 68 Kelurahan.

Ditengah-tengah kota terdapat Kebun Raya Bogor yang dibangun sejak Tahun 1817 oleh seorang ahli botani yaitu Prof. Dr. RC. Reinwardth dengan luas 87 Ha dan terdapat 20.000 jenis tanaman yang tergolong dalan 6000 Species dan merupakan Kebun Raya terbesar di Asia Tenggara.

[Sumber: Forum Warga Bogor]

Tentang imngrh

Gawak artinya adalah Garis Waktu. Kalau di Twitter disebut dengan Timeline (TL). Blog ini merupakan kumpulan tweet yang isinya bermacam-macam topik/tema tentang apa saja yang menarik untuk ditulis. Penulis @imannugraha
Tulisan ini dipublikasikan di Bogor Tempo Doeloe, Pemerintahan, Sejarah dan tag , . Tandai permalink.

17 Balasan ke Sejarah Kota Bogor (2)

  1. Arn berkata:

    It’s supposed to be BUITENZORG, not Boeitenzorg………

  2. imngrh berkata:

    Ok trims. Sudah diganti koq..

  3. Ricky Rinedy berkata:

    waaaawww….

    okeh daeh…

    cuman kurang dilengkapi dengan gamber2 bersejarah

  4. imngrh berkata:

    bisa ditengok di blog saya lainnya mas…

  5. briel berkata:

    tambah dong foto-foto bogor jaman baheula-nya,,,
    terutama gedung2 bersejarah di bogor,
    thank

  6. duanbari berkata:

    AsSalam.
    Ustadz, ane minta foto-fotonya ya?
    Syukron

  7. Iman Nugraha berkata:

    @duanbari: silahkan akhi….kalo mau lengkap bisa kunjungi blog saya yang lain di multiply (http://imannugraha.multiply.com). Disini antum bisa dapatkan banyak sekali foto-foto Kota Bogor jadul.

    Salam

  8. AbSjam berkata:

    Mohon maaf yang diebut sebagai Gedung Kejaksan…pada 1875 sih belum ada.

    Gedung yang dimaksud adalah Kantor Karesidenan.. tempat kerja sang Resident..yang secara tata birokrasi saat itu mewakili Governor Belanda untuk mengatur government / bupati bupati di wilayah Bogor yang meliputi Bogor, Sukabumi, dan Cianjur).

    Terimakasih,

  9. Iman Nugraha berkata:

    @absjam: betul pak sjam..itu bukan gedung kejaksaan tapi kantor keresidenan. maaf belum sempat saya robah keterangannya.
    Trims atas koreksinya.

    salam,
    iman nugraha

  10. Jaelani berkata:

    I as the citizen of bogor very proud of this, thank for your information. let’s keep bogor always in good conditions in every aspect especially our culture, our moral, our habit to show that “Urang Bogor” is such a lovely people.

    KEEP BOGOR CLEAN, THE CITY OR THE PEOPLE

    thanks

  11. ayu berkata:

    kalo dr bandara ke jln raya tajur jam 9 mlm gitu hemat n aman nya na naik apa ya supaya dr bandara langsung kehotel ?? mslhna kami dr banjarmasin k jkt berangkat jam 6 sore dan blm pernah sm skali k bogor. mslh hotel yg murah n tinggal jln kaki aja ke sentra tas apa nama hotelna ya ? mksh infona

    • imngrh berkata:

      Ada mbak tapi tidak terlalu dekat. nama hotelnya Hotel Permata (kelas melati), terletak di Jl Pajajaran. Kalo naik bis dari jakarta bisa turun di deket Kantor Kecamatan Bogor Timur atau seberang factory Outlet Rumah Gaya. nanti tinggal jalan kaki ke hotel. Kalo soal harga hotel relatif ya…bisa mahal bisa murah.
      Utk ke SKI Katulampa bisa naik angkot no 13 dari hotel dan turun di depan gerbang SKI. Tarifnya cuma 2000 perak, utk sekali naik angkot.

      Salam,

      Iman Nugraha
      http://www.iman-nugraha.net

  12. ayu berkata:

    tadi ayu ada telp ke hotel monalisa jl. raya tajur kata na tinggal jalan kaki aja ke terminal tas bener ndak pa ? terus d bandara na pake bis apa namana ke jln raya tajur tsb ? malam jam 9 apa msh ada ? sebenarna lbh murah mana di SKI atau di terminal tas harga tas2na ?

    • iman berkata:

      Betul mbak. Di jl raya tajur memang ada hotel terdekat yi hotel monalisa dan bisa jalan kaki ke tas tajur. Tp saya tidak menyarankan mbak nginep di hotel tsb, meski relatif murah.

      klo dari bandara naik bis damri jurusan Bogor. Setiba di pool damri Bogor, mbak bisa naik angkot 01 warna biru/hijau ke arah Tajur. nanti angkot tsb melintas ke toko2 penjualan tas (stasiun tas, dll). Toko buka jam 9 sampe 17. Kalo malam sudah tutup.

      Soal harga relatif mbak, tp utk pilihan lebih banyak di SKI Katulampa. Dibanding dengan beli di boutique jelas lebih murah di SKI.

  13. ayu berkata:

    pa ada FB ? boleh tau pa ?

  14. Exo berkata:

    Maaf mas Iman, ada berbagai versi pertama kali masuknya Belanda ke Bogor. Kalau berdasarkan catatan Leupe, betul adanya Sersan Scipion (Scipio) didampingi Letnan Patingi yg asli Ambon itu melakukan eskpedisi pasca erupsi gunung salak 5 Januari 1699. Berbeda dgn ekspedisi Scipio dan Tanu jiwa yg dilakukan 1687 dan dua orang itu ditemani oleh seorang pelukis bernama Johannes Rach.
    punten pami lepat
    sampurasun

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s