Anakku Cermin Diriku

HanifJABARU – Mungkin tidak salah jika ada pepatah yang mengatakan “Anak Cerminan Orangtuanya”. Pepatah ini benar adanya saat kusaksikan polah tingkah anakku akhir-akhir ini.

Hanif Abdurrahman. Ya, itulah nama anakku yang akan kuceritakan ini. Usianya baru tiga tahun. Tingkahnya dari waktu ke waktu ‘seperti’ dan ‘mulai’ mirip Bapaknya…hehehe.

Mulai dari cara berdandan, bergaya, dan bertingkah. Mirip mirip denganku. Saat aku asyik dengan pekerjaan di komputer. Dia mulai bergaya dengan tingkahnya. Seolah sudah menguasai komputer. Tapi, anehnya hanya dengan satu-dua kali melihat aku di komputer. Hanif sudah bisa mempraktekkan ‘keahlian’nya mengklik-klik menu dan ternyata betul.

Belum lagi saat aku baca koran setiap pagi sebelum berangkat kerja. Hanif mulai pasang telinganya tajam-tajam kalau-kalau mendengar suara deru sepeda motor tukang koran yang setiap hari aku beli. Ia bergegas meminta uang kepadaku untuk membeli koran dan kemudian menyerahkannya kepadaku.

Saat aku sibuk membaca, ia juga kelihatan sibuk ‘membaca’. Sekalipun aku tahu ia hanya tertarik melihat-lihat foto binatang dan kendaraan. Sesekali ia bertanya apa yang sedang aku baca.

Belum lagi kalau aku akan berangkat ke kantor. Hanif pasti mendahuluiku dengan membawa kunci mobil dan berlari cepat menuju mobil sedan tuaku untuk di-brum-kan (istilah Hanif untuk mesin mobil yang sedang dipanaskan). Jika sudah didalam mobil pasti banyak tingkah polahnya. Mulai dari memutar-mutar stir mobil, menyalakan klakson, sampai menginjak-injak pedal (sekalipun tidak nyampe karena tubuhnya yang kecil).

Satu lagi yang suka ia tiru dariku adalah ucapan yang keluar dari mulutku. Pernah aku mengatakan kalimat yang kurang enak didengar kepada kakaknya. Tidak lama kemudian, ia menirukan apa yang aku ucapkan kepada kakaknya. Persis sekali…! Saat aku tahu kejadian itu, aku sadar. Aku mulai berhati-hati mengucapkan kata-kata dihadapan kakak-kakaknya. Khawatir ditiru…

Memang, yang aku tahu dari ilmu pendidikan tentang anak, orangtua hendaknya hati-hati dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Semua tindak tanduk dan tutur kata orangtua akan ditiru oleh anaknya. Jika kebaikan yang keluar dari orangtuanya, maka selamatlah anaknya. Tapi jika keburukan dan kejahatan yang keluar dari orangtuanya. Bagaimana jadinya anak-anaknya?

Al Qur’an mengatakan “quu anfusikum wa wahlikum naaro..”. Jagalah dirimu dan keluargamu dari panasnya api neraka. Semoga aku bisa menjaga diriku dan keluargaku dari api neraka. Demikian juga Anda. Semoga! [Imngrh]

Tentang imngrh

Gawak artinya adalah Garis Waktu. Kalau di Twitter disebut dengan Timeline (TL). Blog ini merupakan kumpulan tweet yang isinya bermacam-macam topik/tema tentang apa saja yang menarik untuk ditulis. Penulis @imannugraha
Pos ini dipublikasikan di Keluarga. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s