The Pursuit of Happyness

The Pursuit of HappynessTadi malam (Selasa, 31/7), meski gak enak badan, Saya menyempatkan nonton VCD-nya Will Smith berjudul The Pursuit of Happyness. Kira-kira artinya “Mengejar Kebahagiaan”. Film garapan sutradara Gabriele Muccino tahun 2006 ini sangat menyentuh perasaan dan memacu semangat untuk tetap struggle mengejar cita-cita sekalipun cobaan dan tantangan menghadang. Ditulis berdasarkan kisah nyata seorang stockbroker (pialang saham) yang sukses.

Film bergenre drama ini mengisahkan perjuangan seorang Chris Gardner (diperankan oleh Will Smith) di tahun 1981 yang harus menghidupi keluarganya (seorang istri dan anak) di kota besar San Fransisco, Amerika Serikat. Dengan bermodal sebagai seorang salesmen alat kesehatan, ia mengunjungi ruang praktek dokter dan klinik di kota besar tersebut untuk menjual alat kesehatan.

Semakin banyak alat yang bisa dia jual semakin besar fee yang ia dapatkan dari alat kesehatan tersebut. Fee tersebut tentu saja untuk mencukupi biaya hidup keluarganya. Parahnya tidak semua dokter atau klinik memerlukan alat tersebut karena relatif mahal dan belum terlalu banyak orang menggunakannya.

Fee sebagai salesmen ternyata tidak mencukupi kebutuhan keluarganya, meski istrinya Linda (diperankan Thandie Newton) sudah mengambil dua shift pekerjaan untuk mendukung kehidupan keluarga. Malah semakin hari istrinya semakin tidak percaya dan meremehkan kemampuan Chris dan akhirnya meninggalkan Chris untuk bekerja di New York.

Di tengah keputusasaan, Chris terinspirasi untuk mencoba menjadi seorang stockbroker (pialang saham) yang ia lihat hidup makmur dan penuh keriangan. Dengan bermodal kemampuan bicara dan sedikit hitung-hitungan, ia memberanikan diri untuk melamar menjadi pialang.

Tentu saja, tidak semudah itu ia diterima menjadi pialang saham. Karena harus bersaing dengan dua puluh orang lainnya. Chris harus menghadapi masa magang selama 6 bulan tanpa dibayar sama sekali. Dalam masa magang tersebut perusahaan memantau dan menilai sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima mereka.

Namun disinilah film ini terasa menarik. Menyelesaikan setumpuk tugas menjadi calon pialang, lika-liku menjual barang, merawat anak dan bagaimana menyiasati biaya hidup di kota besar terjalin secara apik dan menggugah.

Bersama anaknya, Christopher (diperankan oleh Jaden Smith), Chris harus berjuang untuk mencari rumah tinggal bagi anaknya, menghabiskan waktu di penjara karena lalai, membayar tagihan pajak yang terus mengejarnya, dan segala kerumitan lainnya.

Namun dari pengalaman hidupnya yang penuh penderitaan dan semangatnya yang tak kenal putus asa itulah akhirnya Chris bisa menjadi pialang sukses. Dan dari pengalaman hidupnya pula ia memahami bagaimana memaknai sebuah kesuksesannya.

Kata Kunci

Dari film itu Saya mendapatkan pelajaran bahwa untuk mencapai suatu kesuksesan, kita harus memiliki mimpi atau cita-cita. Karena dengan cita-cita itulah kita bisa menggerakan seluruh potensi untuk meraihnya.

Cita-cita akan menjadi sia-sia jika tidak diikuti dengan tekad yang kuat untuk menggapainya. Inilah yang selalu dipesankan Chris kepada anaknya saat mereka bermain basket bersama. “If you have a dream, go get it,” pesan Chris.

Tekad yang kuat saja tidak cukup, tapi harus diimbangi dengan sikap kreatif, berpikir positif dan selalu mencari tantangan baru meski berat. Itulah yang menyebabkan mengapa Chris mencoba menjadi pialang saham padahal ia tidak memiliki pengalaman. [imngrh]

Tentang imngrh

Gawak artinya adalah Garis Waktu. Kalau di Twitter disebut dengan Timeline (TL). Blog ini merupakan kumpulan tweet yang isinya bermacam-macam topik/tema tentang apa saja yang menarik untuk ditulis. Penulis @imannugraha
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Resensi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s