Sempur, dari Prajurit hingga Wanita Penghibur

BOGOR – Kali ini kita coba sedikit mengupas cerita tentang daerah Sempur. Ada dua versi tentang asal muasal penamaan daerah ini. Beberapa sumber menyebutkan, Sempur berasal dari nama sebuah jenis pohon, dimana pada beberapa puluh tahun lalu, daerah ini banyak tumbuh pohon-pohon Sempur. Pohon ini memiliki buah yang menyerupai melon dalam ukuran yang kecil, dan rasanya seperti buah jambu air. Jika Anda penasaran seperti apa bentuk pohon itu, Anda bisa mendatangi Kebun Raya Bogor dan menanyakan kepada petugas yang ada disana tentang keberadaan pohon Sempur yang masih tumbuh disana.

Versi lain menyebutkan, Sempur itu berasal dari kata San Poor (bahasa Belanda-red) yang berarti tempat pemandian atau kolam renang. Sampai saat ini masih terdapat bekas-bekas keberadaan kolam renang tersebut, walaupun fungsinya sudah berubah sama sekali.

Pada zaman sebelum tahun 1900-an, Sempur merupakan kawasan yang diberi nama Kedung Halang yang meliputi Kampung Rambutan, Lebak Pilar, Sempur Kidul, Sempur Kaler, Taman Kencana dan daerah sekitarnya. Sempur merupakan daerah pengembangan pemukiman Belanda yang awalnya terpusat pada Istana Bogor dan terus menyebar dan meluas ke wilayah sekitarnya.

Saat itu Sempur memang merupakan lahan kosong. Sebuah lapang yang membentang luas diantara wilayah perbukitan yang mengarah ke Timur menuju Taman Kencana, Kebun Raya di sebelah Selatan, dan dearah Jalan Soedirman dari arah Barat yang dibelah oleh Sungai Ciliwung. Menuju arah Utara, terdapat lokasi perkebunan dan persawahan yang dikelola pribumi yang sebagian datang dari daerah luar Sempur seperti Bantarjati dan Babakan. Awal kepemilikan lahan biasanya dari inisiatif merawat dan mengelola, kemudian perlahan mulai diperjualbelikan atau sistem sewa.

Beberapa pemukiman pribumi awal, kemudian hadir di daerah sekitar perbukitan/tebing. Bagian wilayah lapang, kemudian berdiri bangunan-bangunan yang didirikan pemerintahan Belanda yang diperuntukkan bagi para pejabat pemerintahan Belanda yang bekerja di Istana dan kantor-kantor disekitarnya. Bahkan sekitar 6 bangunan yang dirancang oleh Arsitek ternama Eropa bernama Thomas Kaarsten, terdapat di Sempur. Selain itu, terdapat kawasan perumahan yang dikenal dengan ‘Rumah Hitam’.

Kawasan ini terdiri dari rumah-rumah yang awalnya diperuntukan bagi tahanan tentara KNIL Belanda. Rumah-rumah ini terletak di deretan ST (SMP 11 sekarang) sampai jembatan. Dikenal rumah hitam karena cat rumah tersebut berwarna hitam (ya, iya lah!), selain itu mungkin karena fungsinya sebagai rumah tahanan yang kesannya serem, jadi disebut rumah hitam.

Berdiri juga sebuah sekolah yang bernama Ambasche School di Sempur Kidul, tapi karena akan dibangun komplek perumahan militer, maka sekolahan tersebut pindah ke lokasi SMP 11 sekarang dan namanya diganti menjadi Sekolah Teknik atau sekolah pertukangan (diperkirakan 1942 mulai dikenal sebagai ST). Sekolah ini telah menerima murid umum baik pribumi, etnis Cina, maupun Indo Belanda.

Pada tahun 1930-an, kawasan ini sudah memiliki beberapa fasilitas seperti terdapatnya air ledeng, gas, dan listrik, bahkan alat komunikasi telepon walaupun fasilitas-fasilitas tersebut awalnya hanya untuk kepentingan para pejabat Belanda untuk keperluan tugas-tugas istana.

Sempur kemudian terus berkembang, melewati masa-masa peralihan dari satu pemerintahan ke pemerintahan lain. Berdirilah pabrik roti bernama Brokkel milik orang Jerman yang sekarang sedang dibangun hotel Sempur Kencana. Dan pasca pemerintahan Jepang (1940-an) wilayah sempur ini juga terkenal dengan tempat para wanita penghibur. Masa itu para tentara KNIL secara paksa menggunakan para wanita untuk ajang pemuasan nafsu. Pada masa itu banyak terdapat gubuk-gubuk yang beratap daun aren sebagai rumah tinggal para wanita penghibur tersebut. Jadi yang namanya jablay, itu mungkin udah ada ya dari dulu.

Jadilah Sempur seperti saat ini, dimana terdapat pemukiman-pemukiman yang berkembang di dalamnya.

[Sumber: http://www.kampoengbogor.org]

Tentang imngrh

Gawak artinya adalah Garis Waktu. Kalau di Twitter disebut dengan Timeline (TL). Blog ini merupakan kumpulan tweet yang isinya bermacam-macam topik/tema tentang apa saja yang menarik untuk ditulis. Penulis @imannugraha
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Bogor Tempo Doeloe, Sejarah dan tag , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Sempur, dari Prajurit hingga Wanita Penghibur

  1. AbSjam berkata:

    Bagian yang tumbuh di awal memang adalah wilayah Sempur Kidul. Wilayah Sempur Kaler adalah perumahan baru yang dibangun setelah masuk tahun 50’an. Awalnya wilayah Sempur Kaler adalah area persawahan. Di tahun 50an, di selokan Sempur Kaler masih mengalir air yang di aliranya itu kita masih bisa menemukan banyak berenyit atau kecebong/anak katak.

    Salam,

  2. IP berkata:

    Di dekat sempur tepatnya sebelum jembatan ciliwung, sebelah kiri dari istana ada bekas kolam renang, oleh masyarakat biasa disebut bakbis. Tempat latihan berenang tentara dari pusdikzi, tetapi anak-anak sekolah diperbolehkan berenang disitu dengan membayar. Dulu dibagian atasnya ujung jembatan ada tempat parkir sepeda. Tetapi gara-gara APEC bangunan itu dirobohkan. Bangunan perumahan hitam mungkin komplek militer dibelakang perikanan darat dindingnya dibuat dari susunan batu kali yang berwarna hitam (sekarang masih ada bekasnya pd rumah yang asli) dan pada bagian kamar mandi tempat kolamnya masih berbentuk lingkaran berbau bangunan baheula. Sebutan Lebak pilar karena dulu di Airmancur sekarang depan bangunan Ledeng ada tugu setinggi kurang lebih 10-15 m menghadap tegak lurus/sejajar ke istana dan gunung salak tetapi di bongkar tahun enampuluhan. Tanah-tanah di kota Bogor dahulu banyak dimiliki oleh tuan tanah. Kampung-kampung lama kalau tak salah banyak ditepi kali/saluran irigasi. seperti Sukamulya, Lebak pilar, lebak pasar, kebun jukut, empang, bojongneros,mantarena, panaragan, kepatihan, kebon jahe, kampung rambutan dulu banyak kampung rambutan, bubulak, gang ardio, abesin dll.. Kampung baru dibelakang toko lautan dulu berupa kebon sampe/singkong. Yang ditepi jalan besar orang gedongan disebutnya. Pondok rumput masih kebon singkong dan kebon karet, tanah sareal Stadion Purana/Pajajaran lapangan kosong tempat pacuan kuda dan main layangan.

  3. suheri berkata:

    terimkasih kang tulisanya membuat saya menoleh kebelakang dan sebetulnya dan seharusnya menjadi inspirasi untuk menjadikan kota kita menjadi daya tarik tempo dulu ! t

  4. Ping balik: Sempur, dari Prajurit hingga Wanita Penghibur « Ferdykurniawan46's Blog

  5. arifin berkata:

    sejarahnya cukup bagus buat anak bogor khususnya sempur,dulu sy warga sempur dr th 1977 / 2004 skrg tinggal di cibitung bekasi,thanks for your article

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s